Thea memeprbaiki posisi mik di depannya karena terlalu rendah baginya. Sir Willy memang sangat pendek dibandingkan Thea, seorang atlit lompat tinggi dan lari. Thea sempat meraih juara nasional lompat tinggi, tetapi sebenarnya Thea tidak begitu menjurus pada bidang olahraga.
"Hei semuanya. Emmm, jujur saja aku tidak begitu tahu apa yang harus aku ucapkan. Semua pepatah-pepatah indah sudah disampaikan oleh Sir Willy.."
"Kau menyukainya kan? Aku memikirkan membuat pepatah itu berhari-hari," potong Sir Willy.
Thea terdiam. Kini ia lebih bingung lagi terhadap apa yang harus ia keluarkan dari mulutnya itu. Seluruh murid merendahkan pernyataan Sir Willy tadi, dan sayangnya Sir Willy hanya menganggapnya sebagai candaan.
"Emm, saya juga punya pepatah bagus kok, Sir."
"Katakanlah."
Thea terdiam sebentar. Ia tahu apa yang ia harus katakan.
Thea mulai membasahi bibirnya dan menelan beberapa ludah untuk memastikan tenggorongkannya tidak kering untuk bersorak nanti.
"Kalian semua pasti ingin sukses. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Kuncinya sebenarnya hanya ada dua; usaha dan kreatifitas. Semua orang sudah pasti bisa berusaha kalau mereka mau."
Murid-murid kini terbawa dengan sebuah emosi yang memotivasi di tiap perkataan Thea. Di saat jeda itu, Thea melihat seorang salah satu murid laki-laki yang mengenakan pakaian yang jauh lebih formal. Tatapannya benar-benar tegak lurus dengan mata Thea. Sejujurnya Thea senang sekali ketika ada yang mendengarkan perkataannya dengan sungguh-sungguh.
Thea memberikannya senyuman.
"Dan kalian tahu guys, syarat untuk menjadi kreatif?"
Pertanyaan menggantung ini makin memikat murid-murid. Thea sudah mempersiapkan kata-kata. Ia siap menyerukan acara penutup dari pembukaan yang sangat tidak menggairahkan.
Thea mengambil nafas dalam-dalam. Bibirnya tersenyum. Anak laki-laki itu masih memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. "There is no rule to be creative, but make sure you don't copy the most."
Di saat itu juga, murid-murid segara berseru dan bertepuk tangan. Thea berhasil membuat mereka bersemangat kembali. Tak ada gambaran yang cocok untuk mendeskripsikan ucapan pembukaan dari Sir Willy selain seorang pria yang sudah lama tidak memenuhi hasrat 'kepuasannya'.
Thea menatap Sir Willy seakan-akan dirinya dan Sir Willy sedang bertanding berpidato. Sir Willy terdiam sesaat. Ia sangat bingung dengan apa yang salah dalam salam pembukaannya selama hampir dua puluh menit tadi. Sangat kontras dengan penutup yang disampaikan Thea yang hanya berdurasi tidak lebih dari tiga menit, tetapi mendapatkan tepuk tangan yang paling meriah.
"Terima kasih."
Anak laki-laki formal itu sudah tidak ada ketika Thea mulai melangkahkan kakinya kembali ke tempat di mana ia bersandar tadi.
"Ya, terima kasih Thea. Penutup yang sangat memotivasi. Kau sangat berbakat di depan publik," salut Sir Willy.
Sudah tidak ada murid yang memperhatikannya lagi. Kini pesta secara resmi maupun tidak telah dimulai.
Thea mencoba menerobos keramaian, tetapi alhasil hanya menimbulkan sakit kepala. Akhirnya Thea memutuskan untuk masuk ke dalam gedung sekolah untuk menghindar dari keramaian. Rasa pusing itu makin lama makin menguasai kepala Thea.
Teman-teman Thea mencarinya, tetapi Thea sendiri kini dalam perjalanannya menuju kamar kecil sekolah di lantai dasar.
Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu dalam gedung sekolah belum dinyalakan. Hal itu justru membuat Thea sedikit takut untuk berkeliaran dalam gedung sekolah sendirian. Hanya beberapa lampu yang menerangi tiap-tiap ruangan. Ketika Thea sedang berada dalam langkahnya yang sedikit terburu-buru, ia melihat Sammy sedang bersandar di dinding.
"Sam?"
"Hei," balas Sammy singkat.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Sammy menutup mata. Thea berkepikiran bahwa Sammy mengalami hal yang sama dengan dirinya.
"Kau pusing dengan keramaian di luar?" tanya Thea. "Well, sebeanrnya aku juga."
Sammy menelan ludah lalu membuka kembali matanya. Rambut merah dan eye linernya telah berhasil membuat Sammy terlihat sangat gothic dalam suasana hening dan gelap seperti ini.
Sammy menatap mata Thea dengan sungguh-sungguh. Bola matanya yang bewarna mutiara itu menunjukkan sebuah keseriusan.
"Waktu terlalu cepat berlalu. Aku tidak mau kehilangan teman-temanku."
"Akulah temanmu," jawab Thea sedikit kecewa.
Memang Sammy adalah teman baik Thea, tetapi entah mengapa Sammy selalu merasa bahwa teman-temannya bukan teman sungguhan. Itu sebabnya Sammy lebih suka menyendiri.
"Apa yang kau cemaskan, Sam?"
"Mereka semua tidak akan mengingatku seiring mereka mulai berada di dunia baru mereka. Aku harus memulainya dari nol."
Thea hanya terdiam. Ia mengakui sedikit kebenaran dari pernyataan Sammy tadi.
"Oh ya, Thea. Aku ingin memberimu sebuah hadiah kecil. Mungkin tidak begitu beharga bagimu, karena aku tahu kau tidak suka menulis."
Thea mulai bingung.
"Lalu, kau mau memberikanku apa?"
Sammy membuka resleting jaketnya yang merapatkan kantong jaketnya yang besar.
"Buku harian?" tanya Thea, dan sebenarnya Thea sudah menebak sebelumnya.
"Yeah," jawabnay singkat sambil menyerahkan buku itu kepada Thea.
"Kau mau aku apakan buku ini?" tanya Thea kembali. Thea sama sekali tidak menyukai menulis karena baginya kata-kata sudah cukup dimaparkan secara verbal.
"Aku ingin kau menulis tiap-tiap kejadian menarik dalam hidupmu, termasuk hari di mana aku meberikan buku ini. Ketika kau merasa cukup penuh dan lengkap, kau dapat mengembalikannya kepadaku."
Thea tertawa kecil.
Apa-apaan ini? Sebuah permainan konyol?
Sammy kembali menatap Thea dengan sungguh-sungguh.
"Ku mohon."
Tiba-tiba kalimat tadi menarik perhatian Thea. Dalam sejarah hidup Sammy, ia tidak pernah memohon dengan sungguh-sungguh kepada seseorang.
"Apakah ini penting untukmu?" tanya Thea bingung.
Sammy hanya tersenyum. Sammy tahu bahwa Thea menyadari adanya sesuatu dibalik permohonannya.
"Aku baru pernah sekali memohon sesuatu kepada seseorang, dan kau menganggap ini sebuah permainan konyol?"
Permainan konyol.
"Ak.. aku tidak mengatakan itu."
"Yah, tampaknya balon katamu mengatakan itu."
Sebenarnya Thea tidak suka dengan cara Sammy menyindirnya, walaupun yang disindirnya adalah sebuah kenyataan.
Thea terdiam. Ia benar-benar bingung.
"Mengapa kau menyuruhku melakukan itu semua?"
"Suatu saat kau akan mengetahuinya dan menyadarinya, hanya saja itu memerlukan waktu yang cukup lama dan kesabaran. Aku yakin, kau akan tahu."
Thea terpaku. Tidak ada lagi kata-kata dalam benaknya.
"Oh well, sepertinya aku tidak akan berlama lagi di sini. Aku akan keluar sekarang. Maaf kalau tadi aku sempat menyakiti perasaanmu sedikit. Aku memang agak kasar, kau tahu kan? Tetapi aku benar-benar ingin kau melakukan hal tersebut. Kau teman spesial, Thea. Trims."
"Sama-sama."
Dan akhirnya pun Sammy meninggakan Thea sendirian, berjalan menuju mulut gedung sekolah dengan cahaya dari jendela yang menerangi sepintas koridor.
No comments:
Post a Comment