Udara sejuk menyapa keramaian di halaman belakang Golden Bridge High. Hari kelulusan SMA, tidak lain dari hari bahagia yang sekaligus juga menyedihkan. Hampir seluruh siswa Golden Bridge High merasakan hal terebut, terlebih lagi bagi The Simmons, serorang siswi kulit putih dengan campuran ras Asia-Amerika yang memiliki begitu banyak teman dari seluruh kelas. Walaupun begitu, Thea bukan tipe wanita populer kebanyakan di Golden Bridge.
Siswa-siswi berkumpul di regu kelas masing-masing. Tiap kelas didampingi oleh wali kelas tentunya. Kepala sekolah melangkahkan kaki-kakinya ke sebuah panggung kecil di mana ia akan berpidato untuk pembukaan pesta perayaan kelulusan siswa-siswi Golden Bridge. Perutnnya yang buncit dan kakinya yang gempal membuat jalannya makin lambat. Siapa lagi kalau bukan Sir Willy (Wonka).
Sesampainya Sir Willy di depan mik, ia mendehem beberapa kali untuk memenangkan keramaian.
Siswa-siswi mulai melemparkan perhatian mereka pada Sir Willy.
Sir Willy mendehem sekali lagi dan seluruh peserta pesta tersebut benar-benar sudah memusatkan perhatiannya kepada bapak gempal itu.
"Apa? Aku hanya memnbersihkan tenggorokanku," canda Sir Willy, dan saat itu juga seluruh murid merasa dikecewakan oleh tipuan kecil Sir Willy.
Remaja seusia mereka tidak menyukai tipe lelucon Sir Willy, tetapi justru Sir Willy menikmatinya.
"Oke, oke, semua dengar, guys!" lanjut Sir Willy, "Pagi ini kita akan mengadakan sebuah pesta untuk merayakan kelulusan angkatan ini! Hari ini mungkin menjadi hari terakhir kalian bertemu teman sebaik yang kalian punya. Hari ini mungkin adalah hari di mana kalian mengucapkan selamat tinggal."
Dasar omong kosong, batin Thea.
"Kini, kalian sudah harus siap untuk melangkah lebih giat lagi sehingga kalian dapat mencapai goal-goal kalian," lanjut Sir Willy.
Sia-sia bagi Sir Willy untuk berbicara sekuat tenaga di depan sekumpulan anak SMA yang sudah lulus. Sir Willy benar-benar tidak punya gambaran mengenai apa yang sedang dihadapinya.
Anak-anak SMA yang sudah lulus. Kata-kata yang keluar dari mulut Sir Willy tentu bukan urusan mereka lagi. Sekali lagi, mereka sudah lulus.
Thea berdiri di sekumpulan teman-temannya, bersandar pada tembok putih yang sudah terdapat kotoran dari tanah yang bertanda pattern bola. Biasanya, sepulang sekolah, anak laki-laki bermain bola di lapangan itu.
Thea menutupkan mata, mencoba menemukan atmosphere kedamaian. Suara Sir Willy kini mulai memudar di benaknya. Thea mulai merasakan atmosphere itu. Ia kembali membuka mata dan suara Sir Willy makin lama makin menghilang. Thea memperhatikan tiap-tiap ekspresi murid-murid terhadap momen yang sedang dirasakannya sekarang.
Bahagia, batinnya.
Kini pandangannya beralih pada teman-temannya. Rasa sedih kini menjadi atmosphere yang ia rasakan. Ia menyadari bahwa tak lama lagi ia merasakan keberasamaan dengan teman-temannya. Ia harus mulai fokus terhadap kuliahnya.
"....THEA SIMMONS! Saya harap Anda bersedia memberikan ucapan penutup untuk sambutan dari saya," seru Sir Willy. Teman-teman Thea saat itu juga berseru-seru.
Thea terbangun dari lamunannya.
"Ada apa sih?" Thea bertanya pada sahabatnya, Kelly.
"Dasar kau, melamun terus. Kau disuruh Willy gendut untuk maju ke depan."
"Wow Thea, menjadi sang penutup dari acara yang sungguh membosankan barusan," ejek John.
"Lalu aku harus ngapain di depan?" tanya Thea.
"Ya, memberikan kata-kata penutup? Kurasa," jawab Kelly.
Thea mengeluh, "Menyebalkan sekali."
Mau tidak mau, ia harus ke depan untuk memberikan kata-kata penutup.
No comments:
Post a Comment