Di tengah-tengah padang gurun. Entah terletak di mana. Mungkin tak dapat terlacak.
Thea duduk di pojokan di sebuah ruangan bawah tanah. Gelap pekat, sama sekali tidak menandakan adanya kehidupan, seperti gambaran sebuah kematian. Sunyi dan akhirnya berakhir pada kesendirian.
Thea sama sekali tidak ingin memikirkan binatang-binatang apa yang mungkin sedang menjelajahi tubuhnya yang menggigil itu. Ia tidak peduli.
Rasa lapar mulai meronta, dan Thea tetap tidak peduli.
Apa yang menjadi objek di pikiran dia, hanyalah sepintas memori-memori yang telah ia jalani.
Ia tetap tidak peduli.
Pintu besi yang sudah karatan itu akhirnya terbuka. Thea cukup senang tiap kali ia mendengar suara pintu besi yang berat itu terbuka. Ia selalu berharap bahwa ia akan bebas dari ruangan mati tersebut tiap kali ia mendengar suara pintu itu terbuka.
Dari belakang tubuh sang bodyguard, ia dapat melihat cahaya-cahaya yang kian lama ia tidak lihat. Cahaya tersebut memperjelas otot-otot sang bodyguard dan postur tubuhnya yang indah itu.
Thea tidak dapat melihat wajah sang bodyguard tersebut.
"Thea Simmons?" tanya bodyguard itu dengan suaranya yang serak. Thea pun berpikir bahwa laki-laki tersebut belum sempat minum dalam delapan elas jam terakhir.
"Apa?" jawab Thea singkat. Ia sudah tidak dapat berbicara banyak. Pita suaranya serasa hampir pecah.
"Sang pangeran ingin bertemu denganmu."
Thea terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak punya gambaran mengenai orang-orang yang menagkapnya. Ia bahkan tidak tahu mengapa mereka menangkapnya.
"Persetanan dengan pangeranmu! Aku sama sekali tidak tahu siapa kalian!"
Suara Thea yang serak mengisi ruangan itu, bahkan mungkin terdengar sampai ruangan lainnya.
"Apakah kalian tidak diajarkan moral oleh pangera kalian? Apakah begini caranya kalian mempelakukan seseorang yang tidak dikenal?!" lanjut Thea dengan suara yang lebih tinggi.
Tangannya yang terborgol beserta ikatan besi membuatnya tidak bisa banyak bergerak. Saraf otot Thea kini sungguh menegang. Emosinya menguasai seluruh tubuhnya dan pikirannya.
Bodyguard itu hanya diam dan diam-diam menikmati keheningan ini bersama Thea.
Perlu beberapa menit bagi sang bidyguard untuk memberikan kata-kata terakhirnya sebelum pintu besi itu tertutup kembali.
"Kau ancaman bagi kami, Thea."
Pikiran Thea mulai kacau. Ia bingung tehadap respon yang akan ia berikan. Detak jantung Thea mulai melambat, entah mengapa. Pikirannya kini kembali ke masa lalu di saat awal mula dari seluruh peristiwa yang membingungkan ini.
No comments:
Post a Comment