Thea segera menjumpai kamar kecil. Ia membutuhkan ruangan yang benar-benar tenang. Ia membasuhkan mukanya dengan air. Ia memandang dirinya di cermin, sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan. Matanya sedikit merah dan berair, menandakan bahwa ia sudah lelah. Ia kembali membasuhkan mukanya, tetapi sebenarnya itu hanyalah sia-sia. Thea tetap saja lelah.
Tak banyak yang ia bisa lakukan di kamar kecil. Ia hanya bersandar sambil menatap dirinya di cermin. Ia sangat menikmati kesunyian itu dan ia berharap kesunyian itu akan berlangsung lama.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
WAITING FOR THE NEXT RAIN, DAYS PASS LIKE A TRAIN...
Ponsel Thea berdering dan Thea sangat terbangunkan oleh nada dering yang tak kalah dengan dering alarm.
Layar ponselnya menunjukkan nama Kelly, Thea segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Thea! Kemana saja kau? Kami mencarimu kemana-mana."
"Oh, maaf. Aku sedang berada di WC, mencuci mukaku."
"Kau ngantuk?"
"Yeah."
"Well, cepatlah keluar. Pesta ini akan membuatmu segar kembali."
"Oke, oke. Tunggu aku."
Tanpa berpikir panjang, Thea langsung mengambil langkah menuju lapangan sekolah.
Tak lupa ia membawa buku harian itu.
Ketika Thea keluar dari kamar kecil, lampu-lampu di dalam gedung sekolah masih belum dinyalakan, bahkan justru makin gelap. Meskipun gelap gulita, cahaya rembulan di balik jendela masih menerangi koridor depan.
Sebelum ia mencapai ganggang pintu depan, ia mendengar sebuah benda yang terjatuh. Di saat itu juga, Thea menghentikan langkahnya. Suara jatuhnya benda itu membuat detak jantung Thea menggema ke seluruh tubuhnya. Ia sedikit takut untuk melihat ke belakang, tetapi ia juga penasaran.
Kucingkah? Atau tikus?
Ia akhirnya memberanikan diri utnuk berbalik badan, dan ia baru saja menyadari bahwa tempat itu benar-benar gelap gulita. IA BERDIRI BEKU DI SANA.
Tiba-tiba ada sebuah hembusan angin yang menyamparinya, meniup rambut coklatnya dan jaketnya yang ringan. Ruangan itu menjadi sangat sunyi, Thea juga tidak membuat suara sama sekali. Thea semakin penasaran. Hembusan angin telah berhasil mengundang kepenasarannya menuju kegelapan yang membekukan.
Thea melangkah denagn sangat perlahan. Tiap langkahnya mewakili keberanian, dan langkah selanjutnya didorong oleh rasa penasaran. Kedua faktor tersebut membuat Thea telah berjalan ke tengah-tengah kegelapan.
Indera penglihatannya kini tidak menjadi panduannya untuk sampai ke tempat tujuan. Ia menajamkan seluruh indera lainnya. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari sakunya, lalu menggunakan ponselnya sebagai sumber cahaya. Cahaya ponsel sungguh membantu, dan Thea harus selalu memenjat tombol apa saja agar cahayanya tidak meredup.
Ia mengambil belokan kiri pertama, yaitu sebuah lorong yang akan membawa Thea ke perpustakaan. Ia mencoba untuk menebak-nebak bunyi tersebut berasal, tetapi tidak ada cara yang lebih baik untuk mendengar kembali suara tersebut selain berdiam diri, dan membiarkan semuanya hening.
Setelah hening dalam waktu singkat, ia kembali mendengar suara, tetapi kali ini ialah sebuah langkah. Thea memutuskan untuk tetap diam dan juga membiarkan cahaya dari ponselnya meredup. Bunyi langkah itu semakin terdengar. Thea semakin tidak menguasai rasa penasarannya. Ia ingin sekali menyalakan kembali cahaya dari ponselnya.
Langkah itu makin lama makin terdengar berat. Thea tidak dapat menebak alas kaki yang sedang dikenakan orang misterius itu. Bunyi langkah itu begitu berat dan terburu-buru.
Thea mulai menyadari bahwa langkah itu berjalan menuju ke arahnya. Detang jantung Thea makin menggaung. Tepat sebelum menabrak Thea, langkah itu berhenti. Hening.
Thea sungguh bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Keputusannya mungkin saja dapat membuat rasa penasarannya tidak mendapatkan apa yang diigninkannya, jawaban.
Thea terpaksa harus diam lebih lama lagi.
"Jangan ikuti aku."
Bisikan itu tiba-tiba sampai tepat di telinganya. Barusan merupakan suara laki-laki. Setelah itu juga ia merasakan hambusan angin dari gerakan laki-laki itu pergi menjauh.
"Tunggu," Thea menahannya. "Siapa kau?"
No comments:
Post a Comment