Tidak ada jawaban. Sebenarnya, dalam hati Thea sendiri mengatakan bahwa tindakan yang barusan ia lakukan adalah tindakan yang bodoh. Ia memutuskan untuk tidak ikut campur. Akhirnya Thea meninggalkannya.
Ketika Thea keluar dari gedung sekolah, Kelly sedang menunggunya tepat di depan pintu. Ia sedang bersandar pada tiang tepat di dekat pintu masuk, begitu juga yang lain.
Russel, John, Charlotte, David dan Lie.
"Apa yang kamu nikmati di dalam sana?" tanya John.
"Aku hanya ke kamar mandi, apa salahnya?"
"Dan kau tidak sadar bahwa kau telah menghabiskan waktu setengah jam di dalam sana?" sela Kelly.
"Well, aku juga sempat ngobrol dengan Sammy."
"Sammy siapa?" tanya Russel.
"Samantha, teman kita dulu," jawab Thea sedikit kecewa.
Kelly menyadari rasa kekecewaan Thea, tetapi Kelly tidak begitu menanggapinya.
"Oh, yang pernah menghianati kita itu?" tanya Russel memastikan.
"Dia bukan penghianat," bantah Thea.
Dalam konfersasi ini ada tiga orang yang hanya diam. Pertama, Charlotte. Dia sedang mendengarkan iPod Touchnya. Kedua, Lie. Dia baru bergabung dalam geng Thea sesudah Samantha tidak bergabung lagi dengan mereka, maka dari itu Lie tidak tahu apa-apa. Ketiga, David. Ia yang memiliki peran utama dalam konflik geng ini dengan Sammy. David benar-benar tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun.
"Hey, Samantha-lah yang berbohong bahwa David yang meletakkan serbuk obat ke dalam kotak makan Thea."
Kelly mengingatkan Thea.
"Aku tidak pikun, Kelly," ketus Thea. "Kau tidak perlu mengingatkanku."
David mulai memberikan signal bahwa dia sudah tidak tahan dengan pembicaraan itu.
"Setidaknya aku sudah memastikan kalau kau mash ingat," bantah Kelly.
"Bisakah kalian tidak membicarakan hal itu lagi?" mohon David dengan nada sedikit tinggi.
Thea dan Kelly saling menatap, kemudian dilanjuti dengan David menatap Kelly. Thea makin kesal, dan akhirnya ia memutuskan untuk menyendiri.
Thea pergi.
"Lihat, siapa yang sensitif sekarang?" ucap Kelly.
"Well, sepertinya kau yang keterlaluan, Kel," balas John, kemudian ia ikut meninggalkan mereka.
Charlotte segera melepaskan earphone-nya, menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
"Ada apa guys?" tanya Charlotte polos.
"Bukan urusanmu Char, lebih baik kau memakai earphone-mu kembali sebelum mood kamu juga ikut rusak," jawab Kelly.
Charlotte menatap David, dan ia merasakan ada sebuah ketegangan tersembunyi.
"Oke baiklah," ucap Chalotte sambil memakai earphone-nya kembali.
John segera menyusul Thea dan akhrinya ia berhasil menemukannya bersandar pada pagar sekolah.
"Thea," sapa John. "Aku tahu tidak seharusnya aku mengganggumu, tapi aku tidak ingin membiarkanmu sendirian di sini."
Thea tetap diam.
John ikut bersandar. "Pikiran lagi kacau?"
Thea tersenyum mendengarnya. "Yeah, kau membaca pikiranku."
John juga ikut tersenyum. "Keahlianku."
Thea tidak setuju dengan jawaban itu. "Hey, itu sama sekali bukan keahlian John. Kita memang sudah saling kenal sejak kita kecil."
"Yup, sejak kita sangat kecil. Kadang aku merindukan masa itu."
"Aku juga."
Akhirnya mereka saling terdiam, menikmati angin malam dan bintang-bintang yang indah. Tak lama kemudian, John menyadari bahwa Thea sedang membawa sesatu di tangannya.
"Apa itu?" tanya John.
"Hadiah dari Sammy."
"Buku harian?"
"Dia memintaku menulis segalanya."
"Segalanya?"
"Ya, apapun yang menurutku menarik. Setelah aku merasa cukup, aku boleh mengembalikannya kepadanya."
"Menarik. Boleh kau copy, lalu au juga berikan kepadaku?"
Thea tertawa kecil, "Kau saja yang copy."
"Bagaimana bisa? Aku akan jauh darimu setelah kita mulai masuk kuliah, sedangkan kau harus memberikan bukunya langsung ke Sammy."
"Di mana kau nanti kuliah?" tanya Thea.
"London."
"California. Benar katamu. Sangat jauh bahkan."
"Hey, kita ke aula yuk," ajak John.
"Di sanakah pestanya?"
"Yup."
"Oke."
"Kau sudah baikan?"
"Ya, trims John."
John tersenyum, lega mendengarnya.
No comments:
Post a Comment