Saturday, May 29, 2010

Pesta

Lagu 'No more sorrow' dari dalam aula menyapa Thea dan John. Pestanya sudah dimulai, bola lampu disko menyinarkan pesta itu.
Mereka berdua segera mencari tempat duduk. John menggandeng tangan Thea, memimpin tiap langkah mereka berdua hingga sampai ke sebuah sofa kosong.

Mereka berdua duduk lega.

"Akhirnya, dapat juga," ucap John sambil menghembuskan nafas beratnya.
"Yeah, benar-benar keterlaluan ramainya."

Tiba-tiba Thea melihat Sir George, guru Character Building. Ia sedang mengenakan pakaian formal, hal itu membuat Thea teringat dengan laki-laki yang sempat memberikannya senyuman ketika dirinya sedang mengucapkan kata-kata penutup.

"Hey, apa kau melihat seorang laki-laki dengan baju yang-- yeah bisa dikatakan formal?"
"Tuxedo?"
"Tidak, tetapi kurasa seperti tuxedo."
"Hmmm, sepertinya tidak. Kapan kau melihatnya?"
"Tadi sewaktu aku mengucapkan kata-kata penutup. Dia memberikanku senyuman. Aku penasaran saja siapa dia."
"Kau tidak mengenal seluruh murid di sini?"
"Tentu saja tidak. Apa kau tidak menyadari bahwa jumlah murid kita lebih dari dua ratus?"
"Yeah, aku tahu. Aku juga tidak mengenali mereka semua. Terutama murid-murid yang mengikuti pilihan subjek C1."
"Aku tidak pandai menghafal muka," ucap Thea dengan tawaan kecil.
"Aku justru tidak pandai menghafal nama."

Tiba-tiba saja Lie merusak suasana unik mereka ketika mereka sedang berduaan.
"Hei kawan! Apakah aku mengganggu kalian?"

"Tidak. Tidak sama sekali Lie. Ayo, duduklah. AKu masih bisa menyisakan tempat duduk untukmu," ucap Thea.

"Wow, trims."

Lie segera menduduki tempat yang Thea sediakan. "Kalian sudah lama di sini?"

"Tidak. Baru saja kami meletakkan pantat kami," jawab John.

"Oh."

"Di mana Kelly dan yang lainnya?" tanya Thea.

"Mereka ada di dekat panggung. Lagu itu membuatku muak."

"'No more sorrow'?" tanya John.

"Ya."

"Kurasa anak-anak memakai lagu ini sebagai simbol di mana mereka tidak lagi dibebankan oleh tugas-tugas sekolah dan ulangan-ulangan yang menyebalkan," ucap Thea.

"Kurasa juga begitu," balas John.

"Aku akan lebih memilih lagu 'That's what friends are for' walaupun lagu itu sudah beberapa dekade lamanya," keluh Lie.

"Aku menyanyikan lagu itu saat perpisahan Sekolah Dasar," ucap Thea.

"Whitney Huston adalah penyanyi favorit ibuku," balas John.

"Oh, ibuku hampir memberikanku nama Whitney."

"Aku juga sempat di beri nama Andrea karena ayahku adalah penggemar berat Andrea Bocelli," ucap John sambil tertawa kecil. Thea pun ikut tertawa. Lie hanya tersenyum.

" Ibuku tidak sedang menggendongku ketika aku diberi nama," keluh Lie.

"Oh ya? Memangnya kenapa?" tanya Thea dengan penuh prigatin.

Wajah Lie tampak santai walaupun di matanya tersimpan berbagai bayangan kesedihan yang ia telah lewati. Kesedihan yang terus ada, tak lepas dari hidupnya.

"Karena ia kekurangan darah setelah melahirkanku. Keadaannya sudah kritis, sehingga terpaksa ibuku langsung dirawat di ruangan khusus. Di saat itu, aku justru tersenyum. Ayahku heran mengapa aku tersenyum padahal ibuku sedang berada di ruang gawat darurat. Dari situlah aku diberi nama Kuai Lie. Kuai dari kata 'kuai le' yang artinya bahagia dalam bahasa mandarin. Lie, diambil dari.."

"Bruce Lee?" tebak John

Lie tersenyum lebar, "Yeah, tepat sekali."

Thea diam terharu.

"Kata ayahku, aku membuatnya bahagia di saat nyawa ibuku bergantung pada sebuah harapan kecil."

"Wow, cerita yang menakjubkan, Lie," ucap John yang ikut terharu.
"Kisah yang luar biasa," lanjut Thea.

Keheningan mereka akhirnya dipecahkan oleh dering ponsel Thea. Thea segera mengambilnya dari saku jeansnya. Nama Sammy ditampilkan oleh layar ponsel itu.

"Hey, guys, aku ke luar dulu ya. Sammy meneleponku."

Friday, May 28, 2010

Kembali

Tidak ada jawaban. Sebenarnya, dalam hati Thea sendiri mengatakan bahwa tindakan yang barusan ia lakukan adalah tindakan yang bodoh. Ia memutuskan untuk tidak ikut campur. Akhirnya Thea meninggalkannya.

Ketika Thea keluar dari gedung sekolah, Kelly sedang menunggunya tepat di depan pintu. Ia sedang bersandar pada tiang tepat di dekat pintu masuk, begitu juga yang lain.

Russel, John, Charlotte, David dan Lie.

"Apa yang kamu nikmati di dalam sana?" tanya John.
"Aku hanya ke kamar mandi, apa salahnya?"
"Dan kau tidak sadar bahwa kau telah menghabiskan waktu setengah jam di dalam sana?" sela Kelly.
"Well, aku juga sempat ngobrol dengan Sammy."
"Sammy siapa?" tanya Russel.
"Samantha, teman kita dulu," jawab Thea sedikit kecewa.

Kelly menyadari rasa kekecewaan Thea, tetapi Kelly tidak begitu menanggapinya.
"Oh, yang pernah menghianati kita itu?" tanya Russel memastikan.
"Dia bukan penghianat," bantah Thea.

Dalam konfersasi ini ada tiga orang yang hanya diam. Pertama, Charlotte. Dia sedang mendengarkan iPod Touchnya. Kedua, Lie. Dia baru bergabung dalam geng Thea sesudah Samantha tidak bergabung lagi dengan mereka, maka dari itu Lie tidak tahu apa-apa. Ketiga, David. Ia yang memiliki peran utama dalam konflik geng ini dengan Sammy. David benar-benar tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun.

"Hey, Samantha-lah yang berbohong bahwa David yang meletakkan serbuk obat ke dalam kotak makan Thea."
Kelly mengingatkan Thea.

"Aku tidak pikun, Kelly," ketus Thea. "Kau tidak perlu mengingatkanku."

David mulai memberikan signal bahwa dia sudah tidak tahan dengan pembicaraan itu.

"Setidaknya aku sudah memastikan kalau kau mash ingat," bantah Kelly.
"Bisakah kalian tidak membicarakan hal itu lagi?" mohon David dengan nada sedikit tinggi.

Thea dan Kelly saling menatap, kemudian dilanjuti dengan David menatap Kelly. Thea makin kesal, dan akhirnya ia memutuskan untuk menyendiri.

Thea pergi.

"Lihat, siapa yang sensitif sekarang?" ucap Kelly.
"Well, sepertinya kau yang keterlaluan, Kel," balas John, kemudian ia ikut meninggalkan mereka.
Charlotte segera melepaskan earphone-nya, menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
"Ada apa guys?" tanya Charlotte polos.
"Bukan urusanmu Char, lebih baik kau memakai earphone-mu kembali sebelum mood kamu juga ikut rusak," jawab Kelly.
Charlotte menatap David, dan ia merasakan ada sebuah ketegangan tersembunyi.
"Oke baiklah," ucap Chalotte sambil memakai earphone-nya kembali.

John segera menyusul Thea dan akhrinya ia berhasil menemukannya bersandar pada pagar sekolah.
"Thea," sapa John. "Aku tahu tidak seharusnya aku mengganggumu, tapi aku tidak ingin membiarkanmu sendirian di sini."

Thea tetap diam.

John ikut bersandar. "Pikiran lagi kacau?"
Thea tersenyum mendengarnya. "Yeah, kau membaca pikiranku."
John juga ikut tersenyum. "Keahlianku."
Thea tidak setuju dengan jawaban itu. "Hey, itu sama sekali bukan keahlian John. Kita memang sudah saling kenal sejak kita kecil."
"Yup, sejak kita sangat kecil. Kadang aku merindukan masa itu."
"Aku juga."

Akhirnya mereka saling terdiam, menikmati angin malam dan bintang-bintang yang indah. Tak lama kemudian, John menyadari bahwa Thea sedang membawa sesatu di tangannya.

"Apa itu?" tanya John.
"Hadiah dari Sammy."
"Buku harian?"
"Dia memintaku menulis segalanya."
"Segalanya?"
"Ya, apapun yang menurutku menarik. Setelah aku merasa cukup, aku boleh mengembalikannya kepadanya."
"Menarik. Boleh kau copy, lalu au juga berikan kepadaku?"

Thea tertawa kecil, "Kau saja yang copy."
"Bagaimana bisa? Aku akan jauh darimu setelah kita mulai masuk kuliah, sedangkan kau harus memberikan bukunya langsung ke Sammy."

"Di mana kau nanti kuliah?" tanya Thea.

"London."

"California. Benar katamu. Sangat jauh bahkan."

"Hey, kita ke aula yuk," ajak John.
"Di sanakah pestanya?"
"Yup."
"Oke."
"Kau sudah baikan?"
"Ya, trims John."

John tersenyum, lega mendengarnya.

Wednesday, May 26, 2010

Pikiran

Thea segera menjumpai kamar kecil. Ia membutuhkan ruangan yang benar-benar tenang. Ia membasuhkan mukanya dengan air. Ia memandang dirinya di cermin, sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan. Matanya sedikit merah dan berair, menandakan bahwa ia sudah lelah. Ia kembali membasuhkan mukanya, tetapi sebenarnya itu hanyalah sia-sia. Thea tetap saja lelah.

Tak banyak yang ia bisa lakukan di kamar kecil. Ia hanya bersandar sambil menatap dirinya di cermin. Ia sangat menikmati kesunyian itu dan ia berharap kesunyian itu akan berlangsung lama.

Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.

WAITING FOR THE NEXT RAIN, DAYS PASS LIKE A TRAIN...

Ponsel Thea berdering dan Thea sangat terbangunkan oleh nada dering yang tak kalah dengan dering alarm.

Layar ponselnya menunjukkan nama Kelly, Thea segera mengangkatnya.
"Halo?"

"Thea! Kemana saja kau? Kami mencarimu kemana-mana."
"Oh, maaf. Aku sedang berada di WC, mencuci mukaku."
"Kau ngantuk?"
"Yeah."
"Well, cepatlah keluar. Pesta ini akan membuatmu segar kembali."
"Oke, oke. Tunggu aku."

Tanpa berpikir panjang, Thea langsung mengambil langkah menuju lapangan sekolah.
Tak lupa ia membawa buku harian itu.

Ketika Thea keluar dari kamar kecil, lampu-lampu di dalam gedung sekolah masih belum dinyalakan, bahkan justru makin gelap. Meskipun gelap gulita, cahaya rembulan di balik jendela masih menerangi koridor depan.
Sebelum ia mencapai ganggang pintu depan, ia mendengar sebuah benda yang terjatuh. Di saat itu juga, Thea menghentikan langkahnya. Suara jatuhnya benda itu membuat detak jantung Thea menggema ke seluruh tubuhnya. Ia sedikit takut untuk melihat ke belakang, tetapi ia juga penasaran.

Kucingkah? Atau tikus?

Ia akhirnya memberanikan diri utnuk berbalik badan, dan ia baru saja menyadari bahwa tempat itu benar-benar gelap gulita. IA BERDIRI BEKU DI SANA.

Tiba-tiba ada sebuah hembusan angin yang menyamparinya, meniup rambut coklatnya dan jaketnya yang ringan. Ruangan itu menjadi sangat sunyi, Thea juga tidak membuat suara sama sekali. Thea semakin penasaran. Hembusan angin telah berhasil mengundang kepenasarannya menuju kegelapan yang membekukan.

Thea melangkah denagn sangat perlahan. Tiap langkahnya mewakili keberanian, dan langkah selanjutnya didorong oleh rasa penasaran. Kedua faktor tersebut membuat Thea telah berjalan ke tengah-tengah kegelapan.

Indera penglihatannya kini tidak menjadi panduannya untuk sampai ke tempat tujuan. Ia menajamkan seluruh indera lainnya. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari sakunya, lalu menggunakan ponselnya sebagai sumber cahaya. Cahaya ponsel sungguh membantu, dan Thea harus selalu memenjat tombol apa saja agar cahayanya tidak meredup.

Ia mengambil belokan kiri pertama, yaitu sebuah lorong yang akan membawa Thea ke perpustakaan. Ia mencoba untuk menebak-nebak bunyi tersebut berasal, tetapi tidak ada cara yang lebih baik untuk mendengar kembali suara tersebut selain berdiam diri, dan membiarkan semuanya hening.

Setelah hening dalam waktu singkat, ia kembali mendengar suara, tetapi kali ini ialah sebuah langkah. Thea memutuskan untuk tetap diam dan juga membiarkan cahaya dari ponselnya meredup. Bunyi langkah itu semakin terdengar. Thea semakin tidak menguasai rasa penasarannya. Ia ingin sekali menyalakan kembali cahaya dari ponselnya.

Langkah itu makin lama makin terdengar berat. Thea tidak dapat menebak alas kaki yang sedang dikenakan orang misterius itu. Bunyi langkah itu begitu berat dan terburu-buru.

Thea mulai menyadari bahwa langkah itu berjalan menuju ke arahnya. Detang jantung Thea makin menggaung. Tepat sebelum menabrak Thea, langkah itu berhenti. Hening.

Thea sungguh bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Keputusannya mungkin saja dapat membuat rasa penasarannya tidak mendapatkan apa yang diigninkannya, jawaban.

Thea terpaksa harus diam lebih lama lagi.

"Jangan ikuti aku."

Bisikan itu tiba-tiba sampai tepat di telinganya. Barusan merupakan suara laki-laki. Setelah itu juga ia merasakan hambusan angin dari gerakan laki-laki itu pergi menjauh.

"Tunggu," Thea menahannya. "Siapa kau?"

Tuesday, May 25, 2010

Ucapan penutup

Thea memeprbaiki posisi mik di depannya karena terlalu rendah baginya. Sir Willy memang sangat pendek dibandingkan Thea, seorang atlit lompat tinggi dan lari. Thea sempat meraih juara nasional lompat tinggi, tetapi sebenarnya Thea tidak begitu menjurus pada bidang olahraga.

"Hei semuanya. Emmm, jujur saja aku tidak begitu tahu apa yang harus aku ucapkan. Semua pepatah-pepatah indah sudah disampaikan oleh Sir Willy.."

"Kau menyukainya kan? Aku memikirkan membuat pepatah itu berhari-hari," potong Sir Willy.

Thea terdiam. Kini ia lebih bingung lagi terhadap apa yang harus ia keluarkan dari mulutnya itu. Seluruh murid merendahkan pernyataan Sir Willy tadi, dan sayangnya Sir Willy hanya menganggapnya sebagai candaan.

"Emm, saya juga punya pepatah bagus kok, Sir."
"Katakanlah."

Thea terdiam sebentar. Ia tahu apa yang ia harus katakan.

Thea mulai membasahi bibirnya dan menelan beberapa ludah untuk memastikan tenggorongkannya tidak kering untuk bersorak nanti.

"Kalian semua pasti ingin sukses. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Kuncinya sebenarnya hanya ada dua; usaha dan kreatifitas. Semua orang sudah pasti bisa berusaha kalau mereka mau."

Murid-murid kini terbawa dengan sebuah emosi yang memotivasi di tiap perkataan Thea. Di saat jeda itu, Thea melihat seorang salah satu murid laki-laki yang mengenakan pakaian yang jauh lebih formal. Tatapannya benar-benar tegak lurus dengan mata Thea. Sejujurnya Thea senang sekali ketika ada yang mendengarkan perkataannya dengan sungguh-sungguh.

Thea memberikannya senyuman.

"Dan kalian tahu guys, syarat untuk menjadi kreatif?"
Pertanyaan menggantung ini makin memikat murid-murid. Thea sudah mempersiapkan kata-kata. Ia siap menyerukan acara penutup dari pembukaan yang sangat tidak menggairahkan.

Thea mengambil nafas dalam-dalam. Bibirnya tersenyum. Anak laki-laki itu masih memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. "There is no rule to be creative, but make sure you don't copy the most."

Di saat itu juga, murid-murid segara berseru dan bertepuk tangan. Thea berhasil membuat mereka bersemangat kembali. Tak ada gambaran yang cocok untuk mendeskripsikan ucapan pembukaan dari Sir Willy selain seorang pria yang sudah lama tidak memenuhi hasrat 'kepuasannya'.

Thea menatap Sir Willy seakan-akan dirinya dan Sir Willy sedang bertanding berpidato. Sir Willy terdiam sesaat. Ia sangat bingung dengan apa yang salah dalam salam pembukaannya selama hampir dua puluh menit tadi. Sangat kontras dengan penutup yang disampaikan Thea yang hanya berdurasi tidak lebih dari tiga menit, tetapi mendapatkan tepuk tangan yang paling meriah.

"Terima kasih."

Anak laki-laki formal itu sudah tidak ada ketika Thea mulai melangkahkan kakinya kembali ke tempat di mana ia bersandar tadi.

"Ya, terima kasih Thea. Penutup yang sangat memotivasi. Kau sangat berbakat di depan publik," salut Sir Willy.

Sudah tidak ada murid yang memperhatikannya lagi. Kini pesta secara resmi maupun tidak telah dimulai.

Thea mencoba menerobos keramaian, tetapi alhasil hanya menimbulkan sakit kepala. Akhirnya Thea memutuskan untuk masuk ke dalam gedung sekolah untuk menghindar dari keramaian. Rasa pusing itu makin lama makin menguasai kepala Thea.

Teman-teman Thea mencarinya, tetapi Thea sendiri kini dalam perjalanannya menuju kamar kecil sekolah di lantai dasar.

Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu dalam gedung sekolah belum dinyalakan. Hal itu justru membuat Thea sedikit takut untuk berkeliaran dalam gedung sekolah sendirian. Hanya beberapa lampu yang menerangi tiap-tiap ruangan. Ketika Thea sedang berada dalam langkahnya yang sedikit terburu-buru, ia melihat Sammy sedang bersandar di dinding.

"Sam?"
"Hei," balas Sammy singkat.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

Sammy menutup mata. Thea berkepikiran bahwa Sammy mengalami hal yang sama dengan dirinya.

"Kau pusing dengan keramaian di luar?" tanya Thea. "Well, sebeanrnya aku juga."

Sammy menelan ludah lalu membuka kembali matanya. Rambut merah dan eye linernya telah berhasil membuat Sammy terlihat sangat gothic dalam suasana hening dan gelap seperti ini.

Sammy menatap mata Thea dengan sungguh-sungguh. Bola matanya yang bewarna mutiara itu menunjukkan sebuah keseriusan.

"Waktu terlalu cepat berlalu. Aku tidak mau kehilangan teman-temanku."
"Akulah temanmu," jawab Thea sedikit kecewa.

Memang Sammy adalah teman baik Thea, tetapi entah mengapa Sammy selalu merasa bahwa teman-temannya bukan teman sungguhan. Itu sebabnya Sammy lebih suka menyendiri.

"Apa yang kau cemaskan, Sam?"
"Mereka semua tidak akan mengingatku seiring mereka mulai berada di dunia baru mereka. Aku harus memulainya dari nol."

Thea hanya terdiam. Ia mengakui sedikit kebenaran dari pernyataan Sammy tadi.

"Oh ya, Thea. Aku ingin memberimu sebuah hadiah kecil. Mungkin tidak begitu beharga bagimu, karena aku tahu kau tidak suka menulis."

Thea mulai bingung.
"Lalu, kau mau memberikanku apa?"

Sammy membuka resleting jaketnya yang merapatkan kantong jaketnya yang besar.

"Buku harian?" tanya Thea, dan sebenarnya Thea sudah menebak sebelumnya.
"Yeah," jawabnay singkat sambil menyerahkan buku itu kepada Thea.

"Kau mau aku apakan buku ini?" tanya Thea kembali. Thea sama sekali tidak menyukai menulis karena baginya kata-kata sudah cukup dimaparkan secara verbal.

"Aku ingin kau menulis tiap-tiap kejadian menarik dalam hidupmu, termasuk hari di mana aku meberikan buku ini. Ketika kau merasa cukup penuh dan lengkap, kau dapat mengembalikannya kepadaku."

Thea tertawa kecil.
Apa-apaan ini? Sebuah permainan konyol?

Sammy kembali menatap Thea dengan sungguh-sungguh.
"Ku mohon."

Tiba-tiba kalimat tadi menarik perhatian Thea. Dalam sejarah hidup Sammy, ia tidak pernah memohon dengan sungguh-sungguh kepada seseorang.

"Apakah ini penting untukmu?" tanya Thea bingung.

Sammy hanya tersenyum. Sammy tahu bahwa Thea menyadari adanya sesuatu dibalik permohonannya.

"Aku baru pernah sekali memohon sesuatu kepada seseorang, dan kau menganggap ini sebuah permainan konyol?"

Permainan konyol.

"Ak.. aku tidak mengatakan itu."

"Yah, tampaknya balon katamu mengatakan itu."

Sebenarnya Thea tidak suka dengan cara Sammy menyindirnya, walaupun yang disindirnya adalah sebuah kenyataan.

Thea terdiam. Ia benar-benar bingung.

"Mengapa kau menyuruhku melakukan itu semua?"

"Suatu saat kau akan mengetahuinya dan menyadarinya, hanya saja itu memerlukan waktu yang cukup lama dan kesabaran. Aku yakin, kau akan tahu."

Thea terpaku. Tidak ada lagi kata-kata dalam benaknya.

"Oh well, sepertinya aku tidak akan berlama lagi di sini. Aku akan keluar sekarang. Maaf kalau tadi aku sempat menyakiti perasaanmu sedikit. Aku memang agak kasar, kau tahu kan? Tetapi aku benar-benar ingin kau melakukan hal tersebut. Kau teman spesial, Thea. Trims."

"Sama-sama."

Dan akhirnya pun Sammy meninggakan Thea sendirian, berjalan menuju mulut gedung sekolah dengan cahaya dari jendela yang menerangi sepintas koridor.

Sunday, May 23, 2010

Hari Kelulusan Sekolah Akhir

Udara sejuk menyapa keramaian di halaman belakang Golden Bridge High. Hari kelulusan SMA, tidak lain dari hari bahagia yang sekaligus juga menyedihkan. Hampir seluruh siswa Golden Bridge High merasakan hal terebut, terlebih lagi bagi The Simmons, serorang siswi kulit putih dengan campuran ras Asia-Amerika yang memiliki begitu banyak teman dari seluruh kelas. Walaupun begitu, Thea bukan tipe wanita populer kebanyakan di Golden Bridge.

Siswa-siswi berkumpul di regu kelas masing-masing. Tiap kelas didampingi oleh wali kelas tentunya. Kepala sekolah melangkahkan kaki-kakinya ke sebuah panggung kecil di mana ia akan berpidato untuk pembukaan pesta perayaan kelulusan siswa-siswi Golden Bridge. Perutnnya yang buncit dan kakinya yang gempal membuat jalannya makin lambat. Siapa lagi kalau bukan Sir Willy (Wonka).

Sesampainya Sir Willy di depan mik, ia mendehem beberapa kali untuk memenangkan keramaian.
Siswa-siswi mulai melemparkan perhatian mereka pada Sir Willy.

Sir Willy mendehem sekali lagi dan seluruh peserta pesta tersebut benar-benar sudah memusatkan perhatiannya kepada bapak gempal itu.

"Apa? Aku hanya memnbersihkan tenggorokanku," canda Sir Willy, dan saat itu juga seluruh murid merasa dikecewakan oleh tipuan kecil Sir Willy.

Remaja seusia mereka tidak menyukai tipe lelucon Sir Willy, tetapi justru Sir Willy menikmatinya.

"Oke, oke, semua dengar, guys!" lanjut Sir Willy, "Pagi ini kita akan mengadakan sebuah pesta untuk merayakan kelulusan angkatan ini! Hari ini mungkin menjadi hari terakhir kalian bertemu teman sebaik yang kalian punya. Hari ini mungkin adalah hari di mana kalian mengucapkan selamat tinggal."

Dasar omong kosong, batin Thea.

"Kini, kalian sudah harus siap untuk melangkah lebih giat lagi sehingga kalian dapat mencapai goal-goal kalian," lanjut Sir Willy.

Sia-sia bagi Sir Willy untuk berbicara sekuat tenaga di depan sekumpulan anak SMA yang sudah lulus. Sir Willy benar-benar tidak punya gambaran mengenai apa yang sedang dihadapinya.

Anak-anak SMA yang sudah lulus. Kata-kata yang keluar dari mulut Sir Willy tentu bukan urusan mereka lagi. Sekali lagi, mereka sudah lulus.

Thea berdiri di sekumpulan teman-temannya, bersandar pada tembok putih yang sudah terdapat kotoran dari tanah yang bertanda pattern bola. Biasanya, sepulang sekolah, anak laki-laki bermain bola di lapangan itu.

Thea menutupkan mata, mencoba menemukan atmosphere kedamaian. Suara Sir Willy kini mulai memudar di benaknya. Thea mulai merasakan atmosphere itu. Ia kembali membuka mata dan suara Sir Willy makin lama makin menghilang. Thea memperhatikan tiap-tiap ekspresi murid-murid terhadap momen yang sedang dirasakannya sekarang.

Bahagia, batinnya.

Kini pandangannya beralih pada teman-temannya. Rasa sedih kini menjadi atmosphere yang ia rasakan. Ia menyadari bahwa tak lama lagi ia merasakan keberasamaan dengan teman-temannya. Ia harus mulai fokus terhadap kuliahnya.

"....THEA SIMMONS! Saya harap Anda bersedia memberikan ucapan penutup untuk sambutan dari saya," seru Sir Willy. Teman-teman Thea saat itu juga berseru-seru.

Thea terbangun dari lamunannya.

"Ada apa sih?" Thea bertanya pada sahabatnya, Kelly.
"Dasar kau, melamun terus. Kau disuruh Willy gendut untuk maju ke depan."
"Wow Thea, menjadi sang penutup dari acara yang sungguh membosankan barusan," ejek John.
"Lalu aku harus ngapain di depan?" tanya Thea.
"Ya, memberikan kata-kata penutup? Kurasa," jawab Kelly.
Thea mengeluh, "Menyebalkan sekali."

Mau tidak mau, ia harus ke depan untuk memberikan kata-kata penutup.

PROLOG

Di tengah-tengah padang gurun. Entah terletak di mana. Mungkin tak dapat terlacak.

Thea duduk di pojokan di sebuah ruangan bawah tanah. Gelap pekat, sama sekali tidak menandakan adanya kehidupan, seperti gambaran sebuah kematian. Sunyi dan akhirnya berakhir pada kesendirian.

Thea sama sekali tidak ingin memikirkan binatang-binatang apa yang mungkin sedang menjelajahi tubuhnya yang menggigil itu. Ia tidak peduli.
Rasa lapar mulai meronta, dan Thea tetap tidak peduli.
Apa yang menjadi objek di pikiran dia, hanyalah sepintas memori-memori yang telah ia jalani.

Ia tetap tidak peduli.

Pintu besi yang sudah karatan itu akhirnya terbuka. Thea cukup senang tiap kali ia mendengar suara pintu besi yang berat itu terbuka. Ia selalu berharap bahwa ia akan bebas dari ruangan mati tersebut tiap kali ia mendengar suara pintu itu terbuka.

Dari belakang tubuh sang bodyguard, ia dapat melihat cahaya-cahaya yang kian lama ia tidak lihat. Cahaya tersebut memperjelas otot-otot sang bodyguard dan postur tubuhnya yang indah itu.
Thea tidak dapat melihat wajah sang bodyguard tersebut.

"Thea Simmons?" tanya bodyguard itu dengan suaranya yang serak. Thea pun berpikir bahwa laki-laki tersebut belum sempat minum dalam delapan elas jam terakhir.

"Apa?" jawab Thea singkat. Ia sudah tidak dapat berbicara banyak. Pita suaranya serasa hampir pecah.

"Sang pangeran ingin bertemu denganmu."

Thea terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak punya gambaran mengenai orang-orang yang menagkapnya. Ia bahkan tidak tahu mengapa mereka menangkapnya.

"Persetanan dengan pangeranmu! Aku sama sekali tidak tahu siapa kalian!"

Suara Thea yang serak mengisi ruangan itu, bahkan mungkin terdengar sampai ruangan lainnya.

"Apakah kalian tidak diajarkan moral oleh pangera kalian? Apakah begini caranya kalian mempelakukan seseorang yang tidak dikenal?!" lanjut Thea dengan suara yang lebih tinggi.

Tangannya yang terborgol beserta ikatan besi membuatnya tidak bisa banyak bergerak. Saraf otot Thea kini sungguh menegang. Emosinya menguasai seluruh tubuhnya dan pikirannya.

Bodyguard itu hanya diam dan diam-diam menikmati keheningan ini bersama Thea.

Perlu beberapa menit bagi sang bidyguard untuk memberikan kata-kata terakhirnya sebelum pintu besi itu tertutup kembali.

"Kau ancaman bagi kami, Thea."


Pikiran Thea mulai kacau. Ia bingung tehadap respon yang akan ia berikan. Detak jantung Thea mulai melambat, entah mengapa. Pikirannya kini kembali ke masa lalu di saat awal mula dari seluruh peristiwa yang membingungkan ini.