Saturday, May 29, 2010

Pesta

Lagu 'No more sorrow' dari dalam aula menyapa Thea dan John. Pestanya sudah dimulai, bola lampu disko menyinarkan pesta itu.
Mereka berdua segera mencari tempat duduk. John menggandeng tangan Thea, memimpin tiap langkah mereka berdua hingga sampai ke sebuah sofa kosong.

Mereka berdua duduk lega.

"Akhirnya, dapat juga," ucap John sambil menghembuskan nafas beratnya.
"Yeah, benar-benar keterlaluan ramainya."

Tiba-tiba Thea melihat Sir George, guru Character Building. Ia sedang mengenakan pakaian formal, hal itu membuat Thea teringat dengan laki-laki yang sempat memberikannya senyuman ketika dirinya sedang mengucapkan kata-kata penutup.

"Hey, apa kau melihat seorang laki-laki dengan baju yang-- yeah bisa dikatakan formal?"
"Tuxedo?"
"Tidak, tetapi kurasa seperti tuxedo."
"Hmmm, sepertinya tidak. Kapan kau melihatnya?"
"Tadi sewaktu aku mengucapkan kata-kata penutup. Dia memberikanku senyuman. Aku penasaran saja siapa dia."
"Kau tidak mengenal seluruh murid di sini?"
"Tentu saja tidak. Apa kau tidak menyadari bahwa jumlah murid kita lebih dari dua ratus?"
"Yeah, aku tahu. Aku juga tidak mengenali mereka semua. Terutama murid-murid yang mengikuti pilihan subjek C1."
"Aku tidak pandai menghafal muka," ucap Thea dengan tawaan kecil.
"Aku justru tidak pandai menghafal nama."

Tiba-tiba saja Lie merusak suasana unik mereka ketika mereka sedang berduaan.
"Hei kawan! Apakah aku mengganggu kalian?"

"Tidak. Tidak sama sekali Lie. Ayo, duduklah. AKu masih bisa menyisakan tempat duduk untukmu," ucap Thea.

"Wow, trims."

Lie segera menduduki tempat yang Thea sediakan. "Kalian sudah lama di sini?"

"Tidak. Baru saja kami meletakkan pantat kami," jawab John.

"Oh."

"Di mana Kelly dan yang lainnya?" tanya Thea.

"Mereka ada di dekat panggung. Lagu itu membuatku muak."

"'No more sorrow'?" tanya John.

"Ya."

"Kurasa anak-anak memakai lagu ini sebagai simbol di mana mereka tidak lagi dibebankan oleh tugas-tugas sekolah dan ulangan-ulangan yang menyebalkan," ucap Thea.

"Kurasa juga begitu," balas John.

"Aku akan lebih memilih lagu 'That's what friends are for' walaupun lagu itu sudah beberapa dekade lamanya," keluh Lie.

"Aku menyanyikan lagu itu saat perpisahan Sekolah Dasar," ucap Thea.

"Whitney Huston adalah penyanyi favorit ibuku," balas John.

"Oh, ibuku hampir memberikanku nama Whitney."

"Aku juga sempat di beri nama Andrea karena ayahku adalah penggemar berat Andrea Bocelli," ucap John sambil tertawa kecil. Thea pun ikut tertawa. Lie hanya tersenyum.

" Ibuku tidak sedang menggendongku ketika aku diberi nama," keluh Lie.

"Oh ya? Memangnya kenapa?" tanya Thea dengan penuh prigatin.

Wajah Lie tampak santai walaupun di matanya tersimpan berbagai bayangan kesedihan yang ia telah lewati. Kesedihan yang terus ada, tak lepas dari hidupnya.

"Karena ia kekurangan darah setelah melahirkanku. Keadaannya sudah kritis, sehingga terpaksa ibuku langsung dirawat di ruangan khusus. Di saat itu, aku justru tersenyum. Ayahku heran mengapa aku tersenyum padahal ibuku sedang berada di ruang gawat darurat. Dari situlah aku diberi nama Kuai Lie. Kuai dari kata 'kuai le' yang artinya bahagia dalam bahasa mandarin. Lie, diambil dari.."

"Bruce Lee?" tebak John

Lie tersenyum lebar, "Yeah, tepat sekali."

Thea diam terharu.

"Kata ayahku, aku membuatnya bahagia di saat nyawa ibuku bergantung pada sebuah harapan kecil."

"Wow, cerita yang menakjubkan, Lie," ucap John yang ikut terharu.
"Kisah yang luar biasa," lanjut Thea.

Keheningan mereka akhirnya dipecahkan oleh dering ponsel Thea. Thea segera mengambilnya dari saku jeansnya. Nama Sammy ditampilkan oleh layar ponsel itu.

"Hey, guys, aku ke luar dulu ya. Sammy meneleponku."

No comments:

Post a Comment